Diskusi Pembuka “Foto Itu Bicara” Hidupkan Ruang PaKarMoto

YOGYAKARTA (ILKOM) - Suasana hangat menyelimuti area acara PaKarMoto (Pameran Karya Mahasiswa Fotografi) di area Glasshouse, UG Floor Pakuwon Mall Jogja pada Senin sore (28/7/2025) lalu. Setelah pembukaan grand opening The 3rd of PaKarMoto yang meriah, kegiatan berlanjut ke sesi Diskusi Pembuka “Foto Itu Bicara” yang dimulai pukul 16.00 WIB.

Para peserta dan pengunjung duduk melingkar, menyimak dengan antusias. Di layar, terpampang kalimat pengantar yang menjadi pengingat bahwa setiap foto memiliki bahasa dan makna yang melampaui visual. Diskusi ini terbagi menjadi tiga sesi utama.

Cerita Karya Foto Cerita Mahasiswa

Sesi pertama dalam diskusi ini menampilkan mahasiswa yang melakukan pameran foto hasil karyanya untuk bisa berbagi pengalaman saat tugas pemotretan membuat photo story. Ada sepuluh kelompok mahasiswa peserta pameran berbagi kisah di balik karya mereka. Di antaranya, kelompok yang mengangkat tema Para Perempuan Tangguh di Beringharjo menceritakan ketekunan para pedagang pasar yang bekerja sejak subuh hingga sore.

Mereka bukan hanya berjualan, tapi juga menjaga warisan budaya dan ekonomi keluarga. Setiap kerutan wajah mereka adalah kisah perjuangan,” ujar Kristina Ina Arong Langkeru, salah satu anggota kelompok bersama Trisania Shasabilla M, dan Maria Leoni.

Ada juga kelompok yang mengangkat Kerajinan Perak Kotagede, menggambarkan keindahan sekaligus tantangan pelestarian seni tradisi ini.

Prosesnya rumit dan butuh kesabaran luar biasa. Kami ingin orang melihat bahwa di balik kilau perak, ada dedikasi seumur hidup,” ungkap Sephia perwakilan kelompok tersebut.

Sementara itu, karya bertema Kali Code Riwayatmu Kini menyoroti kehidupan di bantaran sungai legendaris Yogyakarta tersebut.

“Kali Code itu seperti cermin kehidupan kota, ada keindahan, ada masalah. Kami ingin menunjukkan wajah Code hari ini, yang masih penuh cerita meski berubah seiring waktu,” kata Elena, salah satu perwakilan kelompok ini.

Tak kalah menarik, kelompok yang mengangkat tema Langkah di Antara Lampu Merah – Dibalik Tawa dan Luntunan Jalanan berbagi kisah tentang potret momen kecil pengamen waria yang menyuarakan kehidupan di jalanan “Bangjo Proliman”.

“Mereka bukan hanya tampil dengan dandanan mencolok, tapi juga menghadirkan tawa, kritik sosial, dan realita kehidupan jalanan. Banyak dari mereka menggantungkan hidup dari saweran, sambil menyembunyikan lelah dan keresahan. Kehadiran mereka ini mengaburkan batas antara hiburan dan perjuangan hidup,” ujar Febbi yang melakukan pemotretan mulai dari pagi hingga sore hari. 

Foto Itu Bicara

Diskusi ini juga menghadirkan pakar foto jurnalistik dan dosen ilmu komunikasi yang pernah memiliki pengalaman dalam melakukan pemotretan khususnya photo story. Moch. Subechi Nurcahyo yang akrab disapa mas Beky ini mengajak audiens memahami bahwa foto bukan hanya gambar indah, tetapi media komunikasi yang memiliki “suara”.

“Foto itu tidak pernah diam. Ia selalu bicara, hanya saja kadang kita tidak peka mendengarnya,” ujar eks Editor Foto Jawa Pos inii.

Ia menambahkan, Tugas fotografer adalah memberi konteks pada gambar, agar penonton bisa merasakan cerita di baliknya.” 

Sementara itu, Mohammad Solihin memberikan panduan menilai dan mengembangkan karya fotografi secara objektif.

“Mengkritisi foto itu seperti bercermin. Kita perlu melihat dengan jujur apa yang kuat dan apa yang lemah dari karya foto kita,” kata dosen pengampu mata kuliah Kritik Foto di Prodi Ilmu Komunikasi UNRIYO ini.

Ia menekankan, “Kritik itu ada pengetahuan dan metodenya sehingga tidak asal kritik. Kritik juga harus membangun, bukan meruntuhkan semangat. Sebab, tujuan kita adalah membuat foto berikutnya menjadi lebih bercerita dan lebih kuat,” imbuh dosen yang juga Sekretaris Prodi Ilmu Komunikasi ini.

Diskusi diakhiri dengan sesi tanya jawab interaktif. Pengunjung dan peserta bertukar pandangan, memperkaya perspektif satu sama lain. Suasana kolaboratif terasa kental, ini bukan sekadar ajang pamer karya, tetapi juga ruang belajar dan berbagi pengalaman.

Dengan acara diskusi pembuka ini, PaKarMoto tidak hanya menjadi etalase visual, tetapi juga panggung dialog yang menghidupkan pesan yakni foto memang bisa bicara asalkan kita mau mendengarkan. (IILKOM FOTO/ Saffa Rizqi Rahmahtika. CS)

.

Berita Sebelumnya Semarak Literasi Digital Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNRIYO, Wujudkan Mahasiswa Cerdas dan Kritis…
Berita Selanjutnya YEAH! Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNRIYO Angkatan 2020 Sukses Adakan Horizon Futsal Competition,…